Entah apa yang sedang ku rasa saat ini.
Kegelisahan selalu menyelimuti.
dikala malam menghampiri.
seiring kerinduan tak bertepi.
dosa dalam kerinduan.
menambah syahdu gelap malam.
tak tertepis rindu menyergap.
saat tidur terlelap.
aku tak ingin bangun dari mimpi.
indahnya seolah surgawi.
khayal tak berujung.
hanya maut yang menghitung.
dalam kerinduan.
lemah tiada daya.
tergores perih peraduan.
hingga tak terupaya.
kenangan tiada henti.
mimpi hanya ilusi.
sekejap mata hilang.
tertimbun ilalang.
terhempas dalam kerinduan
kerinduan indah terlarang
nikmati dosa keindahan
indahnya dosa terlarang
by didit
17 oktober 2007
namanya juga galau jadi amburadul
Wednesday, October 17, 2007
Friday, May 04, 2007
Everyday Is My Birthday!
Everyday Is My Birthday!
Begitu bangun tidur, Rasulullah mengajarkan berdoa:
'Alhamdulillaah, alladzie ahyaanaa, ba'da ma amaatana, WA ilaihinnusyuur'
Segala puji bagiMu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku Dan hanya kepadaMu nanti kami semua akan berpulang.
Betapa indah Dan dalamnya pesan DOA ini, bahwa setiap pagi adalah Hari kelahiran sebagaimana malam adalah malam kematian.
Begitu terlahir kembali yang pertama diucapkan adalah rasa syukur pada Allah Dan kemudian dilanjutkan dengan salat Subuh. Salat Subuh adalah awal kehidupan baru dimulai.
Apapun yang Kita lakukan, kemanapun kaki melangkah tetap yang menjadi tujuan adalah keridhaan Allah.
Demikianlah, ketika kesadaran batin itu selalu tertuju pada Allah Dan selalu menjaga kondisi itu agar tetap tidak menjauh dari orbit Ilahi, Rasulullah mengajarkan untuk melakukan salat Zuhur, Asar, Magrib
Dan kemudian Isya.
Ritual salat idealnya lebih dari sekedar peristiwa fisik Dan mengulang bacaan DOA. Salat juga adalah sebuah peristiwa emosional-spiritual ketika raga-diri yang fitri Dan jiwa-ikhlas Bertemu Allah Yang Maha Pengasih.
Jiwa, ruh Kita sesungguhnya setiap saat selalu ingin memperoleh kedamaian ketika merasa dekat dengan Yang Maha Damai [QS Ar Ra'du; 13:28]
Sayangnya daya tarik emosi, pikiran Dan kenikmatan fisik lebih dominan sehingga kenikmatan jiwa sewaktu salat sulit diraih.
Padahal jika Kita lebih intens menghayati, maka setiap Hari adalah Hari kelahiran Dan juga Hari kematian.
Setiap Hari pula hendaknya Kita melakukan pesta tasyakuran Dan DOA pertobatan pada Allah.
Sungguh manusia terlalu lemah sebagaimana tergambar sewaktu tidur karena tidak bisa menguasai dirinya sendiri bahkan Kita tidak sanggup menentukan judul mimpi yang Kita inginkan.
Selamat berulang Hari, semoga panjang Dan berkah selalu umurnya.
Everyday is our birthday. Be cheerful and let's share happiness!
[Dikutip dari buku Psikologi Kematian - Komaruddin Hidayat - Rektor UIN Syarif Hidayatullah]
Begitu bangun tidur, Rasulullah mengajarkan berdoa:
'Alhamdulillaah, alladzie ahyaanaa, ba'da ma amaatana, WA ilaihinnusyuur'
Segala puji bagiMu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku Dan hanya kepadaMu nanti kami semua akan berpulang.
Betapa indah Dan dalamnya pesan DOA ini, bahwa setiap pagi adalah Hari kelahiran sebagaimana malam adalah malam kematian.
Begitu terlahir kembali yang pertama diucapkan adalah rasa syukur pada Allah Dan kemudian dilanjutkan dengan salat Subuh. Salat Subuh adalah awal kehidupan baru dimulai.
Apapun yang Kita lakukan, kemanapun kaki melangkah tetap yang menjadi tujuan adalah keridhaan Allah.
Demikianlah, ketika kesadaran batin itu selalu tertuju pada Allah Dan selalu menjaga kondisi itu agar tetap tidak menjauh dari orbit Ilahi, Rasulullah mengajarkan untuk melakukan salat Zuhur, Asar, Magrib
Dan kemudian Isya.
Ritual salat idealnya lebih dari sekedar peristiwa fisik Dan mengulang bacaan DOA. Salat juga adalah sebuah peristiwa emosional-spiritual ketika raga-diri yang fitri Dan jiwa-ikhlas Bertemu Allah Yang Maha Pengasih.
Jiwa, ruh Kita sesungguhnya setiap saat selalu ingin memperoleh kedamaian ketika merasa dekat dengan Yang Maha Damai [QS Ar Ra'du; 13:28]
Sayangnya daya tarik emosi, pikiran Dan kenikmatan fisik lebih dominan sehingga kenikmatan jiwa sewaktu salat sulit diraih.
Padahal jika Kita lebih intens menghayati, maka setiap Hari adalah Hari kelahiran Dan juga Hari kematian.
Setiap Hari pula hendaknya Kita melakukan pesta tasyakuran Dan DOA pertobatan pada Allah.
Sungguh manusia terlalu lemah sebagaimana tergambar sewaktu tidur karena tidak bisa menguasai dirinya sendiri bahkan Kita tidak sanggup menentukan judul mimpi yang Kita inginkan.
Selamat berulang Hari, semoga panjang Dan berkah selalu umurnya.
Everyday is our birthday. Be cheerful and let's share happiness!
[Dikutip dari buku Psikologi Kematian - Komaruddin Hidayat - Rektor UIN Syarif Hidayatullah]
Thursday, May 03, 2007
( Tahukah Anda ) Paus Juga Manusia ( bag. 2 )
Paus Juga Manusia (Bag.2)
Rabu, 2 Mei 07 17:30 WIB
Bank Vatikan atau Instituto per le Opere di Religione (IOR) merupakan institusi keuangan yang memiliki kekayaan dan pengaruh yang sangat besar, tidak saja di dalam lingkungan kepausan tetapi juga merambah ke seluruh dunia. Namun yang tidak banyak diduga, Bank Vatikan ini ternyata memiliki jaringan kerjasama dengan mafia narkotika, P2, Freemason, mafia uang palsu, dan sebagainya. Yang terakhir ini dipaparkan secara gamblang oleh David Yallop di dalam karyanya “In God’s Name: an Investigation Into the Murder of Pope John Paul I” (1984).
Dalam bukunya, Yallop memaparkan secara berani masa-masa awal Bank Vatikan di bawah kepemimpinan Paus Pius XI. Paus ini merupakan paus pertama yang melakukan pengubahan dengan tegas sikap Gereja Katolik Roma terhadap riba (Usury). Paus Pius XI memperlunak sikap Gereja Katolik Roma yang telah ratusan tahun mengharamkan setiap jenis dan tingkatan riba, sehingga bersikap longgar terhadapnya.
Dalam pengertian sederhana, riba merupakan semua uang yang dihasilkan atau diperoleh dari usaha meminjamkan uang dengan menarik bunga atas pinjaman pokok, yang disebabkan faktor jangka waktu peminjaman. Sejak dulu, Gereja Katolik Roma bersikap keras terhadap hal ini dan menentangnya dengan alasan utama bahwa hal tersebut bertentangan dengan Hukum Tuhan, sama persis dengan ajaran Islam.
Berbagai konsili berkali-kali diselenggarakan dengan menekankan larangan atau pantangan ini. Antara lain Konsili Arles di tahun 314 Masehi, Konsili Nice 324M, Konsili Chartago 345M, Aix en Provence 789, dan Lateran 1159. Bahkan pada setelah Konsili Lateran, sikap keras terhadap riba ini bertambah-tambah dengan pemberlakuan hukum pengucilan (isolasi) terhadap para pemungut riba.
Sikap keras ini oleh Paus Pius XI diubah menjadi lebih lunak. Pengertian riba yang semula begitu lugas dan tegas oleh Paus Pius XI hanya dibatasi pada pemungutan bunga yang dianggap terlalu tinggi, sedangkan pemungutan bunga yang tidak terlalu tinggi dianggap bisa diterima.
Perubahan sikap ini, yang dilakukan Paus Pius XI, memiliki latar belakang. Yaitu membuka jalan bagi Bernardino Nogara, seorang jenius kelahiran Bellano, Italia, tahun 1870. Bernardino merupakan adik kandung dari Mgr. Nogara, orang kepercayaan Paus, untuk memimpin sebuah lembaga baru yang akan dibentuk.
Indra Adil, penulis novel konspirasi “The Lady Di Conspiracy: Misteri di Balik Tragedi Pont de L’Alma” (Alkautsar: 2007) menyinggung sedikit tentang hal ini. “Lembaga baru yang dibentuk Paus Pius XI ini memiliki tugas mengelola semua bisnis Vatikan, yang pengelolaannya berjalan tanpa campur tangan Paus. Ini yang diminta Nogara jika Paus menginginkan dirinya memimpin lembaga baru tersebut. Nogara meminta Paus memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk menginvestasikan dana milik Vatikan ke dalam bidang apa pun di dunia, tanpa melewati pertimbangan-pertimbangan religius dan dokrinal apa pun, ” demikian Indra (hal. 357).
Entah mengapa, Paus Pius XI begitu saja menyetujui permintaan Nogara dan membiarkan Nogara mengelola dana milik Vatikan di dalam bisnis spekulasi uang, valuta asing, dan jual beli saham, termasuk saham-saham dari perusahaan yang produknya bertentangan dengan doktrin Gereja seperti perusahaan senjata dan juga alat-alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu dikutuk Gereja di dalam kotbah-kotbah para imam.
Jaringan Mussolini dan Hitler
Yang tidak diketahui banyak kalangan, termasuk umat Katholik Roma sendiri, modal dasar bagi lembaga baru Vatikan ini ternyata dana dari kantong Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia yang bersekutu dengan Hitler dalam Perang Dunia II.
Mussolini menyerahkan uang senilai 750 juta lira plus 5% dari nominal satu miliar lira, yang dalam kurs tahun 1929 bernilai sama dengan 81 juta US dollar. Inilah modal awal dari Bank Vatican yang disebut juga sebagai Vatican Incorporated.
Kerjasama antara Paus dengan Mussolini ini melewati seorang perantara yang juga berperan sebagai ahli hukum bernama Francesco Pacelli. Lewat orang ini pula, hubungan antara Paus dengan Mussolini berkembang hingga ke sosok Hitler.
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Eugenio Pacelli, yang juga saudara lelaki dari Francesco, memegang peranan penting dalam perjanjian dengan Hitler yang hingga tahun 1943 saja telah mampu menambah laba untuk Vatikan sebesar 100 dollar AS lagi. Kardinal Pacelli sendiri kelak akan menjabat sebagai Paus Pius XII yang juga dikenal dalam sejarah Gereja sebagai Paus yang pro Nazi.
Dalam Perang Dunia II, Paus Pacelli atau Paus Pius XII mengalami tekanan dari Sekutu yang dikuasai lobi Yahudi untuk memutuskan hubungan dan mengucilkan dengan Hitler. Namun Paus Pius XII tetap menolaknya.
Sikap Paus Pius XII bertolak belakang dengan Paus John XXIII, Angelo Roncalli, yang pro Yahudi dan anti Hitler. Bahkan di masa John XXIII-lah para pejabat Vatikan diperbolehkan menjadi anggota Freemasonry. Sesuatu yang dulunya dilarang keras.
Anehnya, semasa dengan Paus John XXIII, Grandmaster Biarawan Sion bernama Plantard juga memakai gelar John XXIII. Keduanya juga secara aneh meninggal bersamaan tahun pada 1963. Dan para cendekiawan pengkaji Injil Gnostik percaya bahwa Paus John XXIII adalah anggota dari Biarawan Sion.
Dalam tulisan terakhir nanti akan saya paparkan Paus John XXIII tersebut dan juga Paus Benediktus XVI sekarang yang sempat membuat heboh dengan pidato jihadnya yang menghina Rasulullah SAW dan Islam. (bersambung/Rizki Ridyasmara)
Rabu, 2 Mei 07 17:30 WIB
Bank Vatikan atau Instituto per le Opere di Religione (IOR) merupakan institusi keuangan yang memiliki kekayaan dan pengaruh yang sangat besar, tidak saja di dalam lingkungan kepausan tetapi juga merambah ke seluruh dunia. Namun yang tidak banyak diduga, Bank Vatikan ini ternyata memiliki jaringan kerjasama dengan mafia narkotika, P2, Freemason, mafia uang palsu, dan sebagainya. Yang terakhir ini dipaparkan secara gamblang oleh David Yallop di dalam karyanya “In God’s Name: an Investigation Into the Murder of Pope John Paul I” (1984).
Dalam bukunya, Yallop memaparkan secara berani masa-masa awal Bank Vatikan di bawah kepemimpinan Paus Pius XI. Paus ini merupakan paus pertama yang melakukan pengubahan dengan tegas sikap Gereja Katolik Roma terhadap riba (Usury). Paus Pius XI memperlunak sikap Gereja Katolik Roma yang telah ratusan tahun mengharamkan setiap jenis dan tingkatan riba, sehingga bersikap longgar terhadapnya.
Dalam pengertian sederhana, riba merupakan semua uang yang dihasilkan atau diperoleh dari usaha meminjamkan uang dengan menarik bunga atas pinjaman pokok, yang disebabkan faktor jangka waktu peminjaman. Sejak dulu, Gereja Katolik Roma bersikap keras terhadap hal ini dan menentangnya dengan alasan utama bahwa hal tersebut bertentangan dengan Hukum Tuhan, sama persis dengan ajaran Islam.
Berbagai konsili berkali-kali diselenggarakan dengan menekankan larangan atau pantangan ini. Antara lain Konsili Arles di tahun 314 Masehi, Konsili Nice 324M, Konsili Chartago 345M, Aix en Provence 789, dan Lateran 1159. Bahkan pada setelah Konsili Lateran, sikap keras terhadap riba ini bertambah-tambah dengan pemberlakuan hukum pengucilan (isolasi) terhadap para pemungut riba.
Sikap keras ini oleh Paus Pius XI diubah menjadi lebih lunak. Pengertian riba yang semula begitu lugas dan tegas oleh Paus Pius XI hanya dibatasi pada pemungutan bunga yang dianggap terlalu tinggi, sedangkan pemungutan bunga yang tidak terlalu tinggi dianggap bisa diterima.
Perubahan sikap ini, yang dilakukan Paus Pius XI, memiliki latar belakang. Yaitu membuka jalan bagi Bernardino Nogara, seorang jenius kelahiran Bellano, Italia, tahun 1870. Bernardino merupakan adik kandung dari Mgr. Nogara, orang kepercayaan Paus, untuk memimpin sebuah lembaga baru yang akan dibentuk.
Indra Adil, penulis novel konspirasi “The Lady Di Conspiracy: Misteri di Balik Tragedi Pont de L’Alma” (Alkautsar: 2007) menyinggung sedikit tentang hal ini. “Lembaga baru yang dibentuk Paus Pius XI ini memiliki tugas mengelola semua bisnis Vatikan, yang pengelolaannya berjalan tanpa campur tangan Paus. Ini yang diminta Nogara jika Paus menginginkan dirinya memimpin lembaga baru tersebut. Nogara meminta Paus memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk menginvestasikan dana milik Vatikan ke dalam bidang apa pun di dunia, tanpa melewati pertimbangan-pertimbangan religius dan dokrinal apa pun, ” demikian Indra (hal. 357).
Entah mengapa, Paus Pius XI begitu saja menyetujui permintaan Nogara dan membiarkan Nogara mengelola dana milik Vatikan di dalam bisnis spekulasi uang, valuta asing, dan jual beli saham, termasuk saham-saham dari perusahaan yang produknya bertentangan dengan doktrin Gereja seperti perusahaan senjata dan juga alat-alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu dikutuk Gereja di dalam kotbah-kotbah para imam.
Jaringan Mussolini dan Hitler
Yang tidak diketahui banyak kalangan, termasuk umat Katholik Roma sendiri, modal dasar bagi lembaga baru Vatikan ini ternyata dana dari kantong Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia yang bersekutu dengan Hitler dalam Perang Dunia II.
Mussolini menyerahkan uang senilai 750 juta lira plus 5% dari nominal satu miliar lira, yang dalam kurs tahun 1929 bernilai sama dengan 81 juta US dollar. Inilah modal awal dari Bank Vatican yang disebut juga sebagai Vatican Incorporated.
Kerjasama antara Paus dengan Mussolini ini melewati seorang perantara yang juga berperan sebagai ahli hukum bernama Francesco Pacelli. Lewat orang ini pula, hubungan antara Paus dengan Mussolini berkembang hingga ke sosok Hitler.
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Eugenio Pacelli, yang juga saudara lelaki dari Francesco, memegang peranan penting dalam perjanjian dengan Hitler yang hingga tahun 1943 saja telah mampu menambah laba untuk Vatikan sebesar 100 dollar AS lagi. Kardinal Pacelli sendiri kelak akan menjabat sebagai Paus Pius XII yang juga dikenal dalam sejarah Gereja sebagai Paus yang pro Nazi.
Dalam Perang Dunia II, Paus Pacelli atau Paus Pius XII mengalami tekanan dari Sekutu yang dikuasai lobi Yahudi untuk memutuskan hubungan dan mengucilkan dengan Hitler. Namun Paus Pius XII tetap menolaknya.
Sikap Paus Pius XII bertolak belakang dengan Paus John XXIII, Angelo Roncalli, yang pro Yahudi dan anti Hitler. Bahkan di masa John XXIII-lah para pejabat Vatikan diperbolehkan menjadi anggota Freemasonry. Sesuatu yang dulunya dilarang keras.
Anehnya, semasa dengan Paus John XXIII, Grandmaster Biarawan Sion bernama Plantard juga memakai gelar John XXIII. Keduanya juga secara aneh meninggal bersamaan tahun pada 1963. Dan para cendekiawan pengkaji Injil Gnostik percaya bahwa Paus John XXIII adalah anggota dari Biarawan Sion.
Dalam tulisan terakhir nanti akan saya paparkan Paus John XXIII tersebut dan juga Paus Benediktus XVI sekarang yang sempat membuat heboh dengan pidato jihadnya yang menghina Rasulullah SAW dan Islam. (bersambung/Rizki Ridyasmara)
Thursday, April 26, 2007
(Tahukah Anda) Paus Juga Manusia
Kutipan dari eramuslim.com
Paus Juga Manusia (Bag.1)
Rabu, 25 Apr 07 13:32 WIB
Dalam "bungkus" resmi, Paus merupakan pimpinan tertinggi sebuah institusi terbesar dan paling berkuasa di dunia yang bernama Tahta Suci Vatikan. Paus adalah orang suci dan disucikan, bahkan dia kerap disapa dengan “Bapa Suci”. Tiap perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi titah bagi umat Katolik sedunia.
Namun tahukah Anda bahwa Paus adalah ternyata juga manusia biasa yang kerap melakukan salah. Ironisnya, kesalahan itu banyak pula yang dilakukannya dengan sadar dan disengaja. Tulisan ini berupaya memotret sosok Paus sebagai manusia apa adanya, yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang kadang cenderung kepada kebaikan dan terkadang meluncur jatuh kepada keburukan.
Berbagai sikap dan tindakan Paus yang akan dipaparkan di dalam tulisan bersambung ini meliputi kontroversi hidup selibat yang ternyata tidak semua Paus dan Orang Suci (Santo atau Santa) mengikutinya, ada pula kasus pandangan politik para Paus yang tidak satu, karena ada Paus yang mendukung Zionis-Israel namun ada pula yang pro Nazi-Hitler.
Selain itu ada pula Paus yang mengutamakan prinsip bisnis material dunia dibanding mengutamakan norma-norma moralitas dan kemanusiaan. Bahkan menggiring Vatikan untuk terlibat dalam bisnis senjata dan alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu ditentang Vatikan di dalam kotbah-kotbahnya.
Dogma Hidup Selibat
Dogma hidup selibat atau berpantang menikah bagi seorang Paus—dan juga bagi para Biarawati dan Biarawan atau Pendeta Katolik—sudah menjadi tradisi yang berjalan ratusan bahkan ribuan tahun. Namun ternyata, dogma yang dikatakan mengikuti “jalan hidup” Yesus yang mereka yakini tidak pernah menikah dalam hidupnya itu, sesungguhnya tidak berasal dari awal Katolikisme itu sendiri.
Santo Petrus sebagai peletak batu Tahta Suci Vatikan pertama, sehingga namanya diabadikan dalam nama Basilika Santo Petrus, ternyata tidak menjalankan hidup selibat. Santo Petrus menikah dan memiliki anak keturunan. Injil-Injil Kanonik seperti Injil Markus, Matius, dan Lukas menyebutkan fakta bahwa Paus pertama ini memiliki seorang isteri ketika Yesus menemuinya.
Nigel Cawthorne dalam "Sex Lives of the Popes "(London, 2004) yang telah diindonesiakan menjadi "Rahasia Kehidupan Seks Para Paus’"(Alas, 2007), menulis bahwa Santo Paulus di dalam surat pertamanya kepada orang-orang Korintus menceritakan bahwa Petrus membawa serta isteri dan keluarganya dalam perjalanan-perjalanannya selama masa kerasulan. Jasad Santa Petronilia yang dikuburkan di Roma telah lama dimuliakan sebagai putri dari Santo Petrus.
Para sejarawan Barat sendiri masih silang pendapat soal apakah Yesus sungguh-sungguh hidup selibat ataukah telah melakukan pernikahan. Dalam Injil Gnostik macam Injil Thomas yang oleh Vatikan dimasukkan dalam kategori Injil Apokrif (Injil terlarang), disebutkan bahwa Yesus telah melangsungkan pernikahan di Qana, Lebanon. Pandangan Injil Gnostik ini selaras dengan Hukum Mishnais kaum Yahudi yang mengatakan, “Seorang lelaki yang tidak menikah tidak akan bisa menjadi Guru. ” Dalam pandangan kelompok ini, adalah mustahil Yesus diterima menjadi seorang Guru dan Raja kaum Yahudi jika ia sendiri tidak menikah. Bahkan Yesus tidak mungkin bisa mengunjungi tanah suci dan berkotbah di sana jika ia belum menikah.
Bagi penulis "The Holy Blood Holy Grail" (Henry Lincoln dkk, 1982) disebutkan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena di Desa Qana, Lebanon. Bahkan Barbara Thieling dalam “Yesus The Man” menuturkan dengan berani bahwa pasangan Yesus dan Maria Magdalena memiliki anak, dua anak lelaki dan satu perempuan.
Pada tahun 44 M, lanjut Thieling, Yesus bercerai dengan Maria Magdalena dan menikahi Lydia, uskup perempuan dari para ‘perawan’ Thyiatira.
Namun yang lebih mengagetkan adalah apa yang termaktub di dalam Injil Thomas, salah satu Injil Gnostik, bahwa Yesus selain menikahi Maria Magdalena ternyata juga mengawini Salome “Sang Pemikat”.
Santo Paulus juga bukan bujangan. “Orang yang disucikan” ini berperan sangat besar dalam merancang dan membentuk dogma seksualitas Vatikan. Namun Cawthorne menulis, “…dia adalah seorang duda yang lama menderita akibat pernikahannya yang tidak membahagiakan. ”
Cawthorne mengutip surat pertama Santo Paulus kepada orang-orang Korintus yang berbunyi: “Apakah aku tidak punya hak untuk memiliki isteri beragama Kristen seperti para rasul yang lain?”
Paulus juga mengatakan, “Lebih baik menikah dari pada terbakar. ” Istilah ‘terbakar’ dianggap memiliki makna “terbakar nafsu”.
Dogma selibat bagi para Biarawati pun sesungguhnya tidak murni berasal dari Kekristenan awal, melainkan berasal dari ritual paganisme Roma yang diistilahkan dengan nama “Para Perawan Vesta” yang terdiri dari para pendeta perempuan Dewi Vesta yang salah satu tugasnya memelihara nyala api Vesta dengan menjaga keperawanannya.
“Hanya saja, para perawan Dewi Vesta ini pun jarang yang mampu menjaga kesuciannya. Banyak dari mereka yang dipenjarakan karena tidak mampu mempertahankan keperawanannya, ” tulis Cawthorne.
Dogma selibat yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan ini menimbulkan aib dalam perjalanan Gereja sejak masa awal. Paus Damasus I (366-384) merupakan salah satu Paus yang oleh Sekretarisnya sendiri, Santo Jerome, dituding sebagai Paus yang rendah moralitasnya. “Perawan Kristen berjatuhan setiap hari, ” ujar Santo Jerome.
Damasus akhirnya diseret oleh Dewan Gereja yang terdiri dari 44 Uskup dan dikenai tuduhan telah melakukan perzinahan. Walau demikian, ketika meninggal, Paus Damasus I diangkat sebagai ‘Santo’ atau Orang Suci.
Paus Clemens V (1305-1314) merupakan salah seorang Paus yang terkenal dalam sejarah Eropa. Dia-lah yang membantu Raja Perancis, King Philip Le Bel, dalam menumpas Ksatria Templar di tahun 1307. Dalam menumpas Templar, Paus Clemens menyatakan bahwa alasan penumpasan itu dikarenakan Templar telah banyak melakukan ‘Heresy’ atau Bidah terhadap Gereja.
Namun di sisi lain, Paus Clemens V ternyata oleh para sejarawan Barat juga dianggap sebagai orang yang suka berzina dan memiliki banyak gundik. Salah satu gundiknya yang terkenal bernama Countess Perigord, seorang perempuan cantik putri dari Earl Foix. Konon, siapa saja yang mencari berkah sang Paus harus menaruh surat permohonannya di dada putih sutera Countess Perigord.
Tentang Clemens, Catholic Encyclopaedia bahkan menulis, “Seorang pecinta hiburan, pecinta perjamuan yang mewah, di mana para perempuan amat bebas bergabung. ” Di masa Clemens-lah, institusi Gereja dibuat sedemikian kotor sehingga kecabulan terlihat dengan kasar dan ada di mana-mana.
Sejarawan Joseph McCabe bahkan menemukan adanya bukti jual-beli rumah bordil antara seorang pejabat kepausan dengan seorang janda dokter di mana dalam kertas pembelian itu tertulis, “Atas nama Tuhan Kita Yesus Kristus. ” (Cawthorme, hal. 126).
Dogma hidup selibat ternyata banyak dirusak oleh Paus dan Para Pendetanya sendiri. Para sejarawan Barat dengan teliti dan berani, menyingkap banyak ketidak-senonohan yang terjadi di Gereja pada masa-masa awal kekristenan hingga saat kini yang melibatkan Paus sendiri.
Sejumlah kasus yang melanda gereja, seperti paedofilia, perzinahan, dan sodomi, yang mencuat beberapa tahun lalu di beberapa negara sesungguhnya bukan hal yang baru. Karena di masa-masa dahulu yang terjadi bahkan jauh lebih menyeramkan ketimbang sekarang.
Dalam tulisan selanjutnya akan dikisahkan tentang sikap Paus Pius XI yang menjalin persekutuan dengan Mussolini dan Hitler dalam mengelola Bank Vatikan yang merupakan cikal bakal dari Vatikan Incorporated, salah satu institusi terkaya dan paling berpengaruh di dunia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
Paus Juga Manusia (Bag.1)
Rabu, 25 Apr 07 13:32 WIB
Dalam "bungkus" resmi, Paus merupakan pimpinan tertinggi sebuah institusi terbesar dan paling berkuasa di dunia yang bernama Tahta Suci Vatikan. Paus adalah orang suci dan disucikan, bahkan dia kerap disapa dengan “Bapa Suci”. Tiap perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi titah bagi umat Katolik sedunia.
Namun tahukah Anda bahwa Paus adalah ternyata juga manusia biasa yang kerap melakukan salah. Ironisnya, kesalahan itu banyak pula yang dilakukannya dengan sadar dan disengaja. Tulisan ini berupaya memotret sosok Paus sebagai manusia apa adanya, yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang kadang cenderung kepada kebaikan dan terkadang meluncur jatuh kepada keburukan.
Berbagai sikap dan tindakan Paus yang akan dipaparkan di dalam tulisan bersambung ini meliputi kontroversi hidup selibat yang ternyata tidak semua Paus dan Orang Suci (Santo atau Santa) mengikutinya, ada pula kasus pandangan politik para Paus yang tidak satu, karena ada Paus yang mendukung Zionis-Israel namun ada pula yang pro Nazi-Hitler.
Selain itu ada pula Paus yang mengutamakan prinsip bisnis material dunia dibanding mengutamakan norma-norma moralitas dan kemanusiaan. Bahkan menggiring Vatikan untuk terlibat dalam bisnis senjata dan alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu ditentang Vatikan di dalam kotbah-kotbahnya.
Dogma Hidup Selibat
Dogma hidup selibat atau berpantang menikah bagi seorang Paus—dan juga bagi para Biarawati dan Biarawan atau Pendeta Katolik—sudah menjadi tradisi yang berjalan ratusan bahkan ribuan tahun. Namun ternyata, dogma yang dikatakan mengikuti “jalan hidup” Yesus yang mereka yakini tidak pernah menikah dalam hidupnya itu, sesungguhnya tidak berasal dari awal Katolikisme itu sendiri.
Santo Petrus sebagai peletak batu Tahta Suci Vatikan pertama, sehingga namanya diabadikan dalam nama Basilika Santo Petrus, ternyata tidak menjalankan hidup selibat. Santo Petrus menikah dan memiliki anak keturunan. Injil-Injil Kanonik seperti Injil Markus, Matius, dan Lukas menyebutkan fakta bahwa Paus pertama ini memiliki seorang isteri ketika Yesus menemuinya.
Nigel Cawthorne dalam "Sex Lives of the Popes "(London, 2004) yang telah diindonesiakan menjadi "Rahasia Kehidupan Seks Para Paus’"(Alas, 2007), menulis bahwa Santo Paulus di dalam surat pertamanya kepada orang-orang Korintus menceritakan bahwa Petrus membawa serta isteri dan keluarganya dalam perjalanan-perjalanannya selama masa kerasulan. Jasad Santa Petronilia yang dikuburkan di Roma telah lama dimuliakan sebagai putri dari Santo Petrus.
Para sejarawan Barat sendiri masih silang pendapat soal apakah Yesus sungguh-sungguh hidup selibat ataukah telah melakukan pernikahan. Dalam Injil Gnostik macam Injil Thomas yang oleh Vatikan dimasukkan dalam kategori Injil Apokrif (Injil terlarang), disebutkan bahwa Yesus telah melangsungkan pernikahan di Qana, Lebanon. Pandangan Injil Gnostik ini selaras dengan Hukum Mishnais kaum Yahudi yang mengatakan, “Seorang lelaki yang tidak menikah tidak akan bisa menjadi Guru. ” Dalam pandangan kelompok ini, adalah mustahil Yesus diterima menjadi seorang Guru dan Raja kaum Yahudi jika ia sendiri tidak menikah. Bahkan Yesus tidak mungkin bisa mengunjungi tanah suci dan berkotbah di sana jika ia belum menikah.
Bagi penulis "The Holy Blood Holy Grail" (Henry Lincoln dkk, 1982) disebutkan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena di Desa Qana, Lebanon. Bahkan Barbara Thieling dalam “Yesus The Man” menuturkan dengan berani bahwa pasangan Yesus dan Maria Magdalena memiliki anak, dua anak lelaki dan satu perempuan.
Pada tahun 44 M, lanjut Thieling, Yesus bercerai dengan Maria Magdalena dan menikahi Lydia, uskup perempuan dari para ‘perawan’ Thyiatira.
Namun yang lebih mengagetkan adalah apa yang termaktub di dalam Injil Thomas, salah satu Injil Gnostik, bahwa Yesus selain menikahi Maria Magdalena ternyata juga mengawini Salome “Sang Pemikat”.
Santo Paulus juga bukan bujangan. “Orang yang disucikan” ini berperan sangat besar dalam merancang dan membentuk dogma seksualitas Vatikan. Namun Cawthorne menulis, “…dia adalah seorang duda yang lama menderita akibat pernikahannya yang tidak membahagiakan. ”
Cawthorne mengutip surat pertama Santo Paulus kepada orang-orang Korintus yang berbunyi: “Apakah aku tidak punya hak untuk memiliki isteri beragama Kristen seperti para rasul yang lain?”
Paulus juga mengatakan, “Lebih baik menikah dari pada terbakar. ” Istilah ‘terbakar’ dianggap memiliki makna “terbakar nafsu”.
Dogma selibat bagi para Biarawati pun sesungguhnya tidak murni berasal dari Kekristenan awal, melainkan berasal dari ritual paganisme Roma yang diistilahkan dengan nama “Para Perawan Vesta” yang terdiri dari para pendeta perempuan Dewi Vesta yang salah satu tugasnya memelihara nyala api Vesta dengan menjaga keperawanannya.
“Hanya saja, para perawan Dewi Vesta ini pun jarang yang mampu menjaga kesuciannya. Banyak dari mereka yang dipenjarakan karena tidak mampu mempertahankan keperawanannya, ” tulis Cawthorne.
Dogma selibat yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan ini menimbulkan aib dalam perjalanan Gereja sejak masa awal. Paus Damasus I (366-384) merupakan salah satu Paus yang oleh Sekretarisnya sendiri, Santo Jerome, dituding sebagai Paus yang rendah moralitasnya. “Perawan Kristen berjatuhan setiap hari, ” ujar Santo Jerome.
Damasus akhirnya diseret oleh Dewan Gereja yang terdiri dari 44 Uskup dan dikenai tuduhan telah melakukan perzinahan. Walau demikian, ketika meninggal, Paus Damasus I diangkat sebagai ‘Santo’ atau Orang Suci.
Paus Clemens V (1305-1314) merupakan salah seorang Paus yang terkenal dalam sejarah Eropa. Dia-lah yang membantu Raja Perancis, King Philip Le Bel, dalam menumpas Ksatria Templar di tahun 1307. Dalam menumpas Templar, Paus Clemens menyatakan bahwa alasan penumpasan itu dikarenakan Templar telah banyak melakukan ‘Heresy’ atau Bidah terhadap Gereja.
Namun di sisi lain, Paus Clemens V ternyata oleh para sejarawan Barat juga dianggap sebagai orang yang suka berzina dan memiliki banyak gundik. Salah satu gundiknya yang terkenal bernama Countess Perigord, seorang perempuan cantik putri dari Earl Foix. Konon, siapa saja yang mencari berkah sang Paus harus menaruh surat permohonannya di dada putih sutera Countess Perigord.
Tentang Clemens, Catholic Encyclopaedia bahkan menulis, “Seorang pecinta hiburan, pecinta perjamuan yang mewah, di mana para perempuan amat bebas bergabung. ” Di masa Clemens-lah, institusi Gereja dibuat sedemikian kotor sehingga kecabulan terlihat dengan kasar dan ada di mana-mana.
Sejarawan Joseph McCabe bahkan menemukan adanya bukti jual-beli rumah bordil antara seorang pejabat kepausan dengan seorang janda dokter di mana dalam kertas pembelian itu tertulis, “Atas nama Tuhan Kita Yesus Kristus. ” (Cawthorme, hal. 126).
Dogma hidup selibat ternyata banyak dirusak oleh Paus dan Para Pendetanya sendiri. Para sejarawan Barat dengan teliti dan berani, menyingkap banyak ketidak-senonohan yang terjadi di Gereja pada masa-masa awal kekristenan hingga saat kini yang melibatkan Paus sendiri.
Sejumlah kasus yang melanda gereja, seperti paedofilia, perzinahan, dan sodomi, yang mencuat beberapa tahun lalu di beberapa negara sesungguhnya bukan hal yang baru. Karena di masa-masa dahulu yang terjadi bahkan jauh lebih menyeramkan ketimbang sekarang.
Dalam tulisan selanjutnya akan dikisahkan tentang sikap Paus Pius XI yang menjalin persekutuan dengan Mussolini dan Hitler dalam mengelola Bank Vatikan yang merupakan cikal bakal dari Vatikan Incorporated, salah satu institusi terkaya dan paling berpengaruh di dunia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
Tuesday, April 17, 2007
SIAPAKAH ????
Siapakah Anda?
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Tuesday, April 10, 2007
(Oase Iman) IRONIS
Ironis...!
9 Apr 07 10:18 WIB
Kirim teman
Oleh Aris Hendrawan
Ketika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutemukan sebuah kata yang memiliki arti “kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir”. Kata itu adalah ironi.
Lantas apa hubungannya dengan Indonesia. Aku pun berpikir sejenak. Kemudian bergumam, tidak seharusnya aku membuat judul seperti di atas. Tapi batin ini tidak bisa hanya diam ketika aku merasakan kesepian di tengah-tengah hiruk-pikuknya orang lalu-lalang. Seolah-olah merasakan kegerahan yang sangat, sementara yang lainnya dicekam kedinginan. Tenggelam dalam lumpur kenistaan di tengah-tengah manusia bersorban. Apakah aku ironis?
Mengawali awal pekan yang selalu tidak menyengkan, pagi-pagi aku sudah disuguhi sebuah realitas hidup melalui layar kaca 14 inchi di ruang tengah rumahku. Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi bahkan terbilang renta, nenek yang hanya tinggal sebatang kara masih menunjukkan wajah optimis.
Setelah pulang dari usahanya untuk bertahan hidup, dia membuka pintu rumahnya yang mengeluarkan bunyi berderit karena kayu dan engselnya sudah berusia sama dengan si pemiliki. Diturunkannya gendongan yang menggelayut di punggung. Nenek itu pun bergegas ke kamar mandi.
Segarnya air wudhu membasuh kulit wajah, tangan serta kaki yang sudah tidak semulus ketika nenek ini masih muda. Pendar-pendar keriput kulitnya tidak membuat pasrah begitu saja pada takdir yang telah digariskan Ilahi Robbi. Bermukena lusuh dan tikar sederhana sebagai alasnya, kewajibannya sebagai hamba ia tunaikan. Setelah selesai, bait-bait doa dilantunkan dalam hatinya. Ya, doa menjadi obat penenang paling mujarab dalam kesulitan maupun kelapangan.
Nenek itu bukan tidak punya anak, tapi anak-anak yang keluar dari rahim perempuan yang sudah tua itu seperti sudah tidak lagi memiliki seorang ibu. Menurut tetangga dekatnya, anak-anaknya tidak pernah berkunjung ke rumahnya yang hanya sepetak dan terletak di gang sempit itu. Meski sang ibu sedang sakit pun, anak-anaknya tidak pernah memperlihatkan bola mata dan batang hidungnya kehadapan sang ibu.
Sejenak kumenarik napas dalam-dalam. “Tega benar, tuh, anaknya, ” gumamku dalam hati. Ingatanku seketika melayang pada nenekku yang telah tiada. Aku sangat merindukannya….! Dulu ketika masih ada, beliau adalah sosok yang kuat menghadapi pelbagai tantangan hidup. Ada persamaan antara nenek yang aku lihat di acara pagi ini dengan nenekku, yaitu meski miskin harta tapi tidak pernah menghujat Robb-nya. Siang malam nenekku selalu berdiri dengan dua kakinya yang terkadang tidak sanggup menahan berat beban tubuhnya. Bacaan Qur’annya yang tidak lebih baik dari murid TPA-ku, tidak membuatnya malu untuk membacanya keras-keras. Teguran dari sang guru semakin membuatnya rajin untuk mengulang hafalan Al-Waqia’ah, Ar-Rahmaan, dan Al-Mulk di rumahnya yang tergolong rumah tua di wilayahnya.
Allohummagfirlahum warhamhum…. Kini jasad nenekku mungkin sudah tidak lagi berbentuk utuh. Ya, tahun ini sudah memasuki tahun ketiga kepergian nenekku menghadap sang Kholiq. Satu hal yang sangat aku sesali, aku tidak pernah punya waktu yang cukup membimbingnya untuk dapat membaca dan menghafal surat-surat dari firman-Nya yang menjadi favoritnya. “Maafkan aku, Nek!”
Kembali ke nenek yang diliput salah satu stasiun televis swasta di Indonesia. Klimaksnya adalah ketika sang nenek memperlihatkan kemampuan survivalnya. Beliau ternyata “bekerja” memungut butiran-butiran beras yang terjatuh dari puluhan karung yang berisi beras yang dipindahkan dari atas truk ke dalam toko di pasar induk. Butir demi butir beliau kumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Ketika dirasa sudah cukup banyak, sang nenek memanggulnya dan membawanya pulang ke rumah. Sampai di rumah, beras yang terkumpul disortir dari kotoran-kotoran yang menyertainya.
Kalau dilihat sekilas, kotoran-kotoran itu lebih banyak dari jumlah berasnya. Dan setiap harinya sang nenek kira-kira mendapat 2 – 3 liter beras. Setengahnya untuk konsumsi sendiri dan setengahnya lagi dijual dan uangnya digunakan untuk membeli lauk-pauknya.
Aku merasakan seperti ada genangan air di mataku. Dan aku hanya bisa menitikkan air mata. Nasi dan sejumlah lauk pauk yang tersedia di meja makan, tidak cukup untuk menggugah selera makan pagiku. Aku masih teringat dengan dua tangan keriput yang terampil memungut butiran beras di jalanan pasar. Aku belum lupa dengan kotoran yang tersaring dari beras. Dan hatiku berkata, mungkin bukan dia saja yang “berprofesi” seperti itu. Masih banyak lagi rekan-rekan kerja sang nenek yang berjibaku dengan kerasnya hidup. Ironiskah?
Masyarakat Indondesia yang dari dulu terkenal ramah, pemurah dan ringan tangan, berbalik 180 derajat.
Banyak dari mereka yang memiliki harta yang berlimpah, tapi sangat miskin hati. Kesenjangan yang amat sangat kentara mewarnai panggung sandiwara kehidupan di Indonesia yang selalu berakhir menyedihkan. Merasakan kesulitan di tengah orang yang bisa membuat segalanya menjadi mudah. Kelaparan di tengah mereka yang kekenyangan. Menggelandang di sepanjang jalan yang memamerkan kemegahan tempat tinggal, sementara maupun permanen. Dan akhirnya, mati membusuk di antara orang-orang yang hidup semerbak wewangian. Ironis…!
Hutan, gunung, sawah, lautan…
Simpanan kekayaan…
Kini ibu sedang sedih…
Merintih dan berdoa…
Satu bait lagu semasa kecil yang mendeskripsikan wajah Indonesia yang sedih.
Hutan Indonesia yang begitu luas menyebabkan kita dijuluki zamrud khatulistiwa. Namun julukan itu tinggal hanya julukan. Tiada pernah luasnya hutan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat luas. Tapi mereka yang segelintir, mampu memanfaatkan luasnya hutan. Meski legalitas pemanfaatan hutan menjadi pertanyaan besar. Hijaunya hutan tidak membuat kesejukan bagi masyarakatnya. Hijuanya hutan membuat mata mereka yang serakah menjadi hijau. Alhasil, kita kekurangan papan di tengah membelukarnya pepohonan di negeri indah ini. Ironis…!
Bentangan sawah sejauh mata memandang terasa fata morgana di padang pasir. Dari jauh begitu menjanjikan, ketika dekat merasa tertipu. Menguningnya padi tidak cukup untuk membuat wajah kita kuning. Pucat pasi nampak di wajah para petani yang sedang memanen. Jatuhnya harga gabah akibat tidak adanya regulasinya yang jelas., mahalnya harga pupuk menyebabkan masa tanam menjadi terlambat, dan kesulitan lainnya yang membuat para petani mati berdiri di tumpukan padi yang menggunung. Dan bangsa Indonesia menderita kelaparan di tengah-tengah sawah yang luas tak berujung. Ironis…!
Birunya laut yang menghampar bak permadani, dengan penghuninya yang menjanjikan kemakmuran bagi manusia. Ikan-ikan yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. Plankton-plankton yang mengambang menyeimbangkan ekosistem kolam raksasa dan bermanfaat pula bagi manusia. Tapi penghuni pesisir kurus kering, sementara minyak ikan berlimpah ruah. Para nelayan hidup miskin di hamparan kaya rayanya lautan. Keindahan tiba-tiba menjadi sebuah neraka yang menakutkan menyambut kemarahan sang penciptanya. Mereka semakin bertambah haus ketika meminum airnya. Ironis…!
Wajah ibu pertiwi memang benar-benar sedang bersedih di percaturan bangsa-bangsa lain yang tertawa bahagia. Air matanya meluap membanjiri kota metropolitan sampai desa-desa terpencil sekali pun. Di belahan bumi yang lain, air matanya keruh menghitam dan panas menggenang, membuat tenggelam beberapa pemukiman penduduk. Mereka yang menyebabkan saling melempar tanggung jawab. Tidak ada yang bisa menghentikan tangisnya.
Tangisnya yang deras menyisakan guncangan hebat di tubuhnya. Terbelahlah bumi yang menjadi pijakan para manusia yang menjerit, berdoa, dan putus asa. Luluh lantak bangunan yang kokoh berdiri menantang. Teringat akan sebuah pesan dari manusia mulia, “Kemarahan sang ibu adalah kemarahan sang mahakuasa, keridhoan sang ibu merupakan keridhoan-Nya”.
Manusia bersorban yang dipenuhi jenggot tak mampu menahan lajunya kemaksiatan. Bahkan menyeret mereka kepada kemungkaran itu sendiri. Maling menjamur di kampung para kyai dan priyayi. Sang Raja tidak lagi dipatuhi rakyatnya. Kesenangan di atas penderitaan orang lain menjadi pemandangan memuakkan. Gema adzan hanya menjadi penghias udara, tak ada yang peduli. Mereka mengaku beriman tapi lalai dalam segala hal. Mereka mengaku isyhadi bi anna muslimun, tapi lupa akan eksistensi-Nya. Tapi tangan-Nya tak pernah berhenti mengulur, menolong para manusia kembali menata kehidupannya menuju lebih baik.
Selangkah kita mendekat kepada-Nya, seribu langkah Dia mendekat kepada kita. Kita berjalan menghampirinya, Dia berlari menyambut kita. Sejengkal kita mencoba merengkuhnya, sehasta Dia maju ke kita. Dia tidak pernah menutup pintu taubat selama matahari masih terbit di sebelah timur. Dia masih akan terus menunda hari akhir, ketika masih ada orang-orang soleh yang mengagungkan-Nya. Tiada kata terlambat sebelum segalanya menjadi terlambat.
Aku bergidik tersadar dari lamunan seraya bergumam, “nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau ingkari”. Sudah cukup kondisi ironi yang mampir di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Sudah saatnya membangun negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun gofur. Semuanya bermuara pada kita. Siapkah kita, mulai dari pucuk pimpinan sampai ke akar rakyat jelata menerima cahaya kebesaran-Nya?
Wallohu’alam
Theking_po@yahoo. Com
kutipan dari oase iman http://www.eramuslim.com
9 Apr 07 10:18 WIB
Kirim teman
Oleh Aris Hendrawan
Ketika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutemukan sebuah kata yang memiliki arti “kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir”. Kata itu adalah ironi.
Lantas apa hubungannya dengan Indonesia. Aku pun berpikir sejenak. Kemudian bergumam, tidak seharusnya aku membuat judul seperti di atas. Tapi batin ini tidak bisa hanya diam ketika aku merasakan kesepian di tengah-tengah hiruk-pikuknya orang lalu-lalang. Seolah-olah merasakan kegerahan yang sangat, sementara yang lainnya dicekam kedinginan. Tenggelam dalam lumpur kenistaan di tengah-tengah manusia bersorban. Apakah aku ironis?
Mengawali awal pekan yang selalu tidak menyengkan, pagi-pagi aku sudah disuguhi sebuah realitas hidup melalui layar kaca 14 inchi di ruang tengah rumahku. Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi bahkan terbilang renta, nenek yang hanya tinggal sebatang kara masih menunjukkan wajah optimis.
Setelah pulang dari usahanya untuk bertahan hidup, dia membuka pintu rumahnya yang mengeluarkan bunyi berderit karena kayu dan engselnya sudah berusia sama dengan si pemiliki. Diturunkannya gendongan yang menggelayut di punggung. Nenek itu pun bergegas ke kamar mandi.
Segarnya air wudhu membasuh kulit wajah, tangan serta kaki yang sudah tidak semulus ketika nenek ini masih muda. Pendar-pendar keriput kulitnya tidak membuat pasrah begitu saja pada takdir yang telah digariskan Ilahi Robbi. Bermukena lusuh dan tikar sederhana sebagai alasnya, kewajibannya sebagai hamba ia tunaikan. Setelah selesai, bait-bait doa dilantunkan dalam hatinya. Ya, doa menjadi obat penenang paling mujarab dalam kesulitan maupun kelapangan.
Nenek itu bukan tidak punya anak, tapi anak-anak yang keluar dari rahim perempuan yang sudah tua itu seperti sudah tidak lagi memiliki seorang ibu. Menurut tetangga dekatnya, anak-anaknya tidak pernah berkunjung ke rumahnya yang hanya sepetak dan terletak di gang sempit itu. Meski sang ibu sedang sakit pun, anak-anaknya tidak pernah memperlihatkan bola mata dan batang hidungnya kehadapan sang ibu.
Sejenak kumenarik napas dalam-dalam. “Tega benar, tuh, anaknya, ” gumamku dalam hati. Ingatanku seketika melayang pada nenekku yang telah tiada. Aku sangat merindukannya….! Dulu ketika masih ada, beliau adalah sosok yang kuat menghadapi pelbagai tantangan hidup. Ada persamaan antara nenek yang aku lihat di acara pagi ini dengan nenekku, yaitu meski miskin harta tapi tidak pernah menghujat Robb-nya. Siang malam nenekku selalu berdiri dengan dua kakinya yang terkadang tidak sanggup menahan berat beban tubuhnya. Bacaan Qur’annya yang tidak lebih baik dari murid TPA-ku, tidak membuatnya malu untuk membacanya keras-keras. Teguran dari sang guru semakin membuatnya rajin untuk mengulang hafalan Al-Waqia’ah, Ar-Rahmaan, dan Al-Mulk di rumahnya yang tergolong rumah tua di wilayahnya.
Allohummagfirlahum warhamhum…. Kini jasad nenekku mungkin sudah tidak lagi berbentuk utuh. Ya, tahun ini sudah memasuki tahun ketiga kepergian nenekku menghadap sang Kholiq. Satu hal yang sangat aku sesali, aku tidak pernah punya waktu yang cukup membimbingnya untuk dapat membaca dan menghafal surat-surat dari firman-Nya yang menjadi favoritnya. “Maafkan aku, Nek!”
Kembali ke nenek yang diliput salah satu stasiun televis swasta di Indonesia. Klimaksnya adalah ketika sang nenek memperlihatkan kemampuan survivalnya. Beliau ternyata “bekerja” memungut butiran-butiran beras yang terjatuh dari puluhan karung yang berisi beras yang dipindahkan dari atas truk ke dalam toko di pasar induk. Butir demi butir beliau kumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Ketika dirasa sudah cukup banyak, sang nenek memanggulnya dan membawanya pulang ke rumah. Sampai di rumah, beras yang terkumpul disortir dari kotoran-kotoran yang menyertainya.
Kalau dilihat sekilas, kotoran-kotoran itu lebih banyak dari jumlah berasnya. Dan setiap harinya sang nenek kira-kira mendapat 2 – 3 liter beras. Setengahnya untuk konsumsi sendiri dan setengahnya lagi dijual dan uangnya digunakan untuk membeli lauk-pauknya.
Aku merasakan seperti ada genangan air di mataku. Dan aku hanya bisa menitikkan air mata. Nasi dan sejumlah lauk pauk yang tersedia di meja makan, tidak cukup untuk menggugah selera makan pagiku. Aku masih teringat dengan dua tangan keriput yang terampil memungut butiran beras di jalanan pasar. Aku belum lupa dengan kotoran yang tersaring dari beras. Dan hatiku berkata, mungkin bukan dia saja yang “berprofesi” seperti itu. Masih banyak lagi rekan-rekan kerja sang nenek yang berjibaku dengan kerasnya hidup. Ironiskah?
Masyarakat Indondesia yang dari dulu terkenal ramah, pemurah dan ringan tangan, berbalik 180 derajat.
Banyak dari mereka yang memiliki harta yang berlimpah, tapi sangat miskin hati. Kesenjangan yang amat sangat kentara mewarnai panggung sandiwara kehidupan di Indonesia yang selalu berakhir menyedihkan. Merasakan kesulitan di tengah orang yang bisa membuat segalanya menjadi mudah. Kelaparan di tengah mereka yang kekenyangan. Menggelandang di sepanjang jalan yang memamerkan kemegahan tempat tinggal, sementara maupun permanen. Dan akhirnya, mati membusuk di antara orang-orang yang hidup semerbak wewangian. Ironis…!
Hutan, gunung, sawah, lautan…
Simpanan kekayaan…
Kini ibu sedang sedih…
Merintih dan berdoa…
Satu bait lagu semasa kecil yang mendeskripsikan wajah Indonesia yang sedih.
Hutan Indonesia yang begitu luas menyebabkan kita dijuluki zamrud khatulistiwa. Namun julukan itu tinggal hanya julukan. Tiada pernah luasnya hutan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat luas. Tapi mereka yang segelintir, mampu memanfaatkan luasnya hutan. Meski legalitas pemanfaatan hutan menjadi pertanyaan besar. Hijaunya hutan tidak membuat kesejukan bagi masyarakatnya. Hijuanya hutan membuat mata mereka yang serakah menjadi hijau. Alhasil, kita kekurangan papan di tengah membelukarnya pepohonan di negeri indah ini. Ironis…!
Bentangan sawah sejauh mata memandang terasa fata morgana di padang pasir. Dari jauh begitu menjanjikan, ketika dekat merasa tertipu. Menguningnya padi tidak cukup untuk membuat wajah kita kuning. Pucat pasi nampak di wajah para petani yang sedang memanen. Jatuhnya harga gabah akibat tidak adanya regulasinya yang jelas., mahalnya harga pupuk menyebabkan masa tanam menjadi terlambat, dan kesulitan lainnya yang membuat para petani mati berdiri di tumpukan padi yang menggunung. Dan bangsa Indonesia menderita kelaparan di tengah-tengah sawah yang luas tak berujung. Ironis…!
Birunya laut yang menghampar bak permadani, dengan penghuninya yang menjanjikan kemakmuran bagi manusia. Ikan-ikan yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. Plankton-plankton yang mengambang menyeimbangkan ekosistem kolam raksasa dan bermanfaat pula bagi manusia. Tapi penghuni pesisir kurus kering, sementara minyak ikan berlimpah ruah. Para nelayan hidup miskin di hamparan kaya rayanya lautan. Keindahan tiba-tiba menjadi sebuah neraka yang menakutkan menyambut kemarahan sang penciptanya. Mereka semakin bertambah haus ketika meminum airnya. Ironis…!
Wajah ibu pertiwi memang benar-benar sedang bersedih di percaturan bangsa-bangsa lain yang tertawa bahagia. Air matanya meluap membanjiri kota metropolitan sampai desa-desa terpencil sekali pun. Di belahan bumi yang lain, air matanya keruh menghitam dan panas menggenang, membuat tenggelam beberapa pemukiman penduduk. Mereka yang menyebabkan saling melempar tanggung jawab. Tidak ada yang bisa menghentikan tangisnya.
Tangisnya yang deras menyisakan guncangan hebat di tubuhnya. Terbelahlah bumi yang menjadi pijakan para manusia yang menjerit, berdoa, dan putus asa. Luluh lantak bangunan yang kokoh berdiri menantang. Teringat akan sebuah pesan dari manusia mulia, “Kemarahan sang ibu adalah kemarahan sang mahakuasa, keridhoan sang ibu merupakan keridhoan-Nya”.
Manusia bersorban yang dipenuhi jenggot tak mampu menahan lajunya kemaksiatan. Bahkan menyeret mereka kepada kemungkaran itu sendiri. Maling menjamur di kampung para kyai dan priyayi. Sang Raja tidak lagi dipatuhi rakyatnya. Kesenangan di atas penderitaan orang lain menjadi pemandangan memuakkan. Gema adzan hanya menjadi penghias udara, tak ada yang peduli. Mereka mengaku beriman tapi lalai dalam segala hal. Mereka mengaku isyhadi bi anna muslimun, tapi lupa akan eksistensi-Nya. Tapi tangan-Nya tak pernah berhenti mengulur, menolong para manusia kembali menata kehidupannya menuju lebih baik.
Selangkah kita mendekat kepada-Nya, seribu langkah Dia mendekat kepada kita. Kita berjalan menghampirinya, Dia berlari menyambut kita. Sejengkal kita mencoba merengkuhnya, sehasta Dia maju ke kita. Dia tidak pernah menutup pintu taubat selama matahari masih terbit di sebelah timur. Dia masih akan terus menunda hari akhir, ketika masih ada orang-orang soleh yang mengagungkan-Nya. Tiada kata terlambat sebelum segalanya menjadi terlambat.
Aku bergidik tersadar dari lamunan seraya bergumam, “nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau ingkari”. Sudah cukup kondisi ironi yang mampir di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Sudah saatnya membangun negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun gofur. Semuanya bermuara pada kita. Siapkah kita, mulai dari pucuk pimpinan sampai ke akar rakyat jelata menerima cahaya kebesaran-Nya?
Wallohu’alam
Theking_po@yahoo. Com
kutipan dari oase iman http://www.eramuslim.com
Thursday, March 29, 2007
Ketukan Jari
Assalamu'alaikum WR WB
Salam sejahtera,
Buat para Pembaca aku ucapkan banyak terima kasih atas waktu yang telah anda berikan untuk membuka blog ini, semoga bermanfaat walau hanya sedikit dan setidaknya bisa buat bahan renungan di kala kita sedang merenung dan jadi bahan diskusi di saat kita di warung kopi. Bukan hanya untuk anda para Pembaca sekalian, terlebih buat diriku sendiri yang masihlah sangat " Katro dan nDeso " serta fakir.
Kesempurnaan hanya milik Alloh SWT dan kekhilafan adalah miliku sebagai manusia.
Isi di dalam Blog ini kebanyakan cukilan dan saduran dari http://www.eramuslim.com
khusus buat indri ( dry_ouw ) yang sudah baca artikel di blog ini saya ucapkan banyak terima kasih.
sekian
Wassalamu'alaikum WR WB
Salam sejahtera,
Buat para Pembaca aku ucapkan banyak terima kasih atas waktu yang telah anda berikan untuk membuka blog ini, semoga bermanfaat walau hanya sedikit dan setidaknya bisa buat bahan renungan di kala kita sedang merenung dan jadi bahan diskusi di saat kita di warung kopi. Bukan hanya untuk anda para Pembaca sekalian, terlebih buat diriku sendiri yang masihlah sangat " Katro dan nDeso " serta fakir.
Kesempurnaan hanya milik Alloh SWT dan kekhilafan adalah miliku sebagai manusia.
Isi di dalam Blog ini kebanyakan cukilan dan saduran dari http://www.eramuslim.com
khusus buat indri ( dry_ouw ) yang sudah baca artikel di blog ini saya ucapkan banyak terima kasih.
sekian
Wassalamu'alaikum WR WB
tanya jawab ( kutipan dari eramuslim.com )
Fenomena Tulisan Allah Akhir-Akhir Ini
Kamis, 29 Mar 07 10:25 WIB
Assalamualaikum Pak Ustadz yang dirahmati Allah,
Akhir-Akhir ini banyak pemberitaan munculnya lafal Allah di berbagai kejadian. Mulai dari jilatan api di Lapindo, pohon yang membentuk lafal Allah di pekan baru hingga bulu kucing yang terdapat lafal Allah di tangerang.
Pertanyaan saya:
1. Apakah fenomena itu memang kuasa dari Allah agar kita selalu mendekatkan diri kepadanya?
2. Ataukah hanya kerjaan makhluk-makhluk diluar manusia yang menginginkan kemusyrikan? Sebab bukan tidak mungkin pohon atau kucing tersebut akan dicari-dicari orang untuk dimintai keberkahan maupun hal musyrik lainnya.
Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamualaykum warrahmatullahi wabarokatuh.
Fanny Tirtasari
fanny_tirtasari at eramuslim.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Fenomena seperti itu memang sering kali kita temui. Misalnya pohon-pohon yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip lafdhul-jalalal, Allah. Atau juga yang konon muncul pada jilatan api lumpur Lapindo baru-baru ini.
Pertanyaannya, pertanda apakah semua ini? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?
Maka diskusi kecil di warung kopi pun tidak sepi dari perbincangan ini. Termasuk di milis dan di forum ustadz menjawab ini. Buktinya, anda telah mengirim pertanyaan ini dan kami -mau tak mau- harus menanggapinya.
Kami jadi teringat semasa kecil umat Islam heboh mendengar berita bahwa Neil Amstong mendengar adzan di bulan saat mendarat tahun 1968. Konon, menurut berita itu, saat mendengar pertama kali, Amstrong belum tahu bahwa suara 'asing' yang didengarnya itu adalah suara panggilan shalat umat Islam.
Berita ini kontan mendapat sambutan luar biasa di tengah umat Islam. Para ustadz dan penceramah asyik mengangkat fenomena ini dalam berbagai kesempatan. Intinya, bahwa semua itu pertanda bahwa Islam adalah agama yang benar.
Tapi sayangnya, terakhir tersiar kabar konfirmasi bahwa berita itu sengaja dihembuskan oleh pihak yang tidak suka pada umat Islam Dan kemudian Amstrong sendiri yang menampik berita bohong itu. Duh, kasihannya umat Islam, mudah sekali dipermainkan orang.
Fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu kita cermati secara teliti dan hati-hati. Sebabkemudahan rekayasa di zaman digital ini sangat mudah dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa komputer.
Tapi yang perlu kita pertimbangkan adalah seberapa besar nilai positif dan produktif yang kita dapat dari semua penampakan itu? Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin shalat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, korupsi dan berbuat zhalim? Apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan?
Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?
Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh kita sendiri sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana firman Allah sendiri:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat: 53)
Bahkan di ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda itu adalah berbentuk tulisan Allah.
Tanda-tanda itu maksudnya adalah tanda kebesaran Allah SWT. Di mana orang-orang yang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan itu. Dan dari mulut mereka keluar ungkapan:
Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)
Namun kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat.
Sedangkan buat orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Al-Quran yang merupakan miraclepun mereka ingkari.
Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Al-Quran yang tak terbantahkan.
Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak menambah apa-apa.
Rawan Syirik
Selain kurang memberi manfaat yang nyata, ada sebagian kalangan yang sampai melarang kita mengangkat masalah seperti itu, karena dikhawatirkan malah akan menimbulkan masalah baru, yaitu kemusyrikan. Dan kejadian ini memang nyaris selalu membayangi.
Tidak aneh kalau dikhawatirkan nanti akan ada orang yang mengkeramatkan kucing yang bulunya bertuliskan Allah, bahkan mungkin akan mengirim sesajen, minta jodoh, minta diangkat jadi pegawai negeri atau malah minta kode buntut. Astaghfirullahal-adhim!
Karena itu untuk amannya, sebaiknya kita lebih konsentrasi untuk mengupas ayat-ayat Allah yang lebih ilmiyah, dengan kajian yang lebih mengarah kepada keaguan Allah dalam penciptaan-Nya. Dan jangan lupa pula untuk lebih sering lagi mengupas ayat Allah yang bersifat qauliyah. Yaitu kita belajar ilmu tafsir dari para ulama yang mu'tabar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Kamis, 29 Mar 07 10:25 WIB
Assalamualaikum Pak Ustadz yang dirahmati Allah,
Akhir-Akhir ini banyak pemberitaan munculnya lafal Allah di berbagai kejadian. Mulai dari jilatan api di Lapindo, pohon yang membentuk lafal Allah di pekan baru hingga bulu kucing yang terdapat lafal Allah di tangerang.
Pertanyaan saya:
1. Apakah fenomena itu memang kuasa dari Allah agar kita selalu mendekatkan diri kepadanya?
2. Ataukah hanya kerjaan makhluk-makhluk diluar manusia yang menginginkan kemusyrikan? Sebab bukan tidak mungkin pohon atau kucing tersebut akan dicari-dicari orang untuk dimintai keberkahan maupun hal musyrik lainnya.
Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamualaykum warrahmatullahi wabarokatuh.
Fanny Tirtasari
fanny_tirtasari at eramuslim.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Fenomena seperti itu memang sering kali kita temui. Misalnya pohon-pohon yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip lafdhul-jalalal, Allah. Atau juga yang konon muncul pada jilatan api lumpur Lapindo baru-baru ini.
Pertanyaannya, pertanda apakah semua ini? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?
Maka diskusi kecil di warung kopi pun tidak sepi dari perbincangan ini. Termasuk di milis dan di forum ustadz menjawab ini. Buktinya, anda telah mengirim pertanyaan ini dan kami -mau tak mau- harus menanggapinya.
Kami jadi teringat semasa kecil umat Islam heboh mendengar berita bahwa Neil Amstong mendengar adzan di bulan saat mendarat tahun 1968. Konon, menurut berita itu, saat mendengar pertama kali, Amstrong belum tahu bahwa suara 'asing' yang didengarnya itu adalah suara panggilan shalat umat Islam.
Berita ini kontan mendapat sambutan luar biasa di tengah umat Islam. Para ustadz dan penceramah asyik mengangkat fenomena ini dalam berbagai kesempatan. Intinya, bahwa semua itu pertanda bahwa Islam adalah agama yang benar.
Tapi sayangnya, terakhir tersiar kabar konfirmasi bahwa berita itu sengaja dihembuskan oleh pihak yang tidak suka pada umat Islam Dan kemudian Amstrong sendiri yang menampik berita bohong itu. Duh, kasihannya umat Islam, mudah sekali dipermainkan orang.
Fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu kita cermati secara teliti dan hati-hati. Sebabkemudahan rekayasa di zaman digital ini sangat mudah dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa komputer.
Tapi yang perlu kita pertimbangkan adalah seberapa besar nilai positif dan produktif yang kita dapat dari semua penampakan itu? Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin shalat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, korupsi dan berbuat zhalim? Apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan?
Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?
Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh kita sendiri sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana firman Allah sendiri:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat: 53)
Bahkan di ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda itu adalah berbentuk tulisan Allah.
Tanda-tanda itu maksudnya adalah tanda kebesaran Allah SWT. Di mana orang-orang yang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan itu. Dan dari mulut mereka keluar ungkapan:
Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)
Namun kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat.
Sedangkan buat orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Al-Quran yang merupakan miraclepun mereka ingkari.
Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Al-Quran yang tak terbantahkan.
Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak menambah apa-apa.
Rawan Syirik
Selain kurang memberi manfaat yang nyata, ada sebagian kalangan yang sampai melarang kita mengangkat masalah seperti itu, karena dikhawatirkan malah akan menimbulkan masalah baru, yaitu kemusyrikan. Dan kejadian ini memang nyaris selalu membayangi.
Tidak aneh kalau dikhawatirkan nanti akan ada orang yang mengkeramatkan kucing yang bulunya bertuliskan Allah, bahkan mungkin akan mengirim sesajen, minta jodoh, minta diangkat jadi pegawai negeri atau malah minta kode buntut. Astaghfirullahal-adhim!
Karena itu untuk amannya, sebaiknya kita lebih konsentrasi untuk mengupas ayat-ayat Allah yang lebih ilmiyah, dengan kajian yang lebih mengarah kepada keaguan Allah dalam penciptaan-Nya. Dan jangan lupa pula untuk lebih sering lagi mengupas ayat Allah yang bersifat qauliyah. Yaitu kita belajar ilmu tafsir dari para ulama yang mu'tabar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Tahukah Anda ??
Tahukah Anda: Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup (Bag.1)
Senin, 26 Mar 07 14:01 WIB
Kirim teman
Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.
Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.
Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz, Bersambung)
Senin, 26 Mar 07 14:01 WIB
Kirim teman
Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.
Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.
Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz, Bersambung)
Tahukah Anda ???
Islam Masuk ke Nusantara Ketika Rasulullah SAW Masih Hidup (Bag.2, Tamat)
Rabu, 28 Mar 07 14:23 WIB
Kirim teman
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.
Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).
Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.
Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).
Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.
“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.
Gujarat Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat)
Rabu, 28 Mar 07 14:23 WIB
Kirim teman
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.
Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).
Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.
Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).
Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.
“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.
Gujarat Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat)
Wednesday, March 21, 2007
al janazah airlane
Setelah anda baca tulisan di bawah ini, apakah anda sudah merasa cukup
dengan bekal yang akan anda bawa? Mari saudara-saudaraku sekalian, kitaberlomba untuk menambah bekal kita! Saya atas nama panitia pengembangan
musholla Al Ghifarry Gardenia Bintaro Tangerang bersiap membantu untuk
menyalurkan tabungan akhirat anda! Mari sisihkan sebagian harta kita untuk
PENERBANGAN GRATIS!RENUNGKAN MAKNANYA Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menungguwaktunya, Wassalam
INFORMASI PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES, LAYANAN PENUH 24 JAM
dengan bekal yang akan anda bawa? Mari saudara-saudaraku sekalian, kitaberlomba untuk menambah bekal kita! Saya atas nama panitia pengembangan
musholla Al Ghifarry Gardenia Bintaro Tangerang bersiap membantu untuk
menyalurkan tabungan akhirat anda! Mari sisihkan sebagian harta kita untuk
PENERBANGAN GRATIS!RENUNGKAN MAKNANYA Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menungguwaktunya, Wassalam
INFORMASI PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES, LAYANAN PENUH 24 JAM
Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah negara. Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan,tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist. Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines,atau American Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.
Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang. Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih. Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci. Dimana passport kita bukan Indonesia , British atau American, tetapiAl-Islam.
Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi 'Laailaahaillallah'
Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.
Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedarkain yang diwangikan. Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.
Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapiruang 2x1 meter, gelap gulita.
Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Dimana tidak perlu satpam dan alat detector.
Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah
Dimana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atauNeraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlubimbang.
Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukanmasalah alergi atau halal haram makanan.Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepatwaktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, anda telah hilang selerabersuka ria.Jangan bimbang tentang pembelian tiket, ianya telah siap di booking sejakanda ditiupkan ruh di dalam rahim ibu.
YA.....! BERITA BAIK...............!!
Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa 'Pemberitahuan'.
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untukPenerbangan....Saat penerbangan anda berangkat...tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah,atau ungkapan selamat jalan.
Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun....Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.
ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian.
Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untukmenghadapinya.'ASTAGHFIRULLAH 3X,
semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga...Amiin WALLAHU A'LAM
Catatan: Penerbangan ini berlaku untuk segala umur...tanpa kecuali, maka perbekalanlebih baik dipersiapkan sejak dini.....sangat tidak bijak dan tidak cerdasbagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.
Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...
Terdengarlah Suara Dari LangitMemekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang TelahMenumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.
"Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit SuaraMemekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te rkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari SeribuBahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib TakBersuara"
Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.
" Ketika Mayat Diusung....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.
"Ketika Mayat Siap Dishalatkan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.
"Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....
terdengar Suara Memekik DariLangit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di DuniaUntuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.
" Ketika SemuaManusia Meninggalkannya Sendirian....
Allah Berkata Kepadanya
,"Wahai Hamba-Ku..... Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".
Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Anda Ingin Beramal Shaleh...? Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...!!!Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini. Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi almautiwa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....
Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibukbekerja... Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini... Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini. Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolahlupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatuyang bagi sebagian orang sangat menakutkan.
Tahukah kita kapan kematian akanmenjemput kita??? Sebarkan e-mail dakwah ini ke 5 orang terdekat Anda, dan mintalah merekauntuk melakukan hal yang sama. Cukup lima saja! Ini bukan surat ancaman berantai.
Yang jelas jika Anda tidak meneruskan e-mail ini, maka Anda telah menyia2 kan kesempatan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan beramalshalih. Jika Anda lakukan dengan ikhlas insya Allah Anda akan menuaikebaikan. Mari berlomba dalam kebaikan.
Salam,
Friday, March 16, 2007
Kelamaan di Depan Komputer Berisiko Beku Darah
Kelamaan di Depan Komputer Berisiko Beku Darah
Ni Ketut Susrini - detikInet
Selandia Baru, Para pekerja kantoran yang berlama-lama duduk di depan komputer berisiko tinggi mengalami kebekuan darah yang fatal yang dapat menyebabkan kematian.
Associated Press yang dikutip detikINET, Kamis (15/3/2007) melansir, sebuah studi yang dilakukan peneliti asal Selandia Baru menyebutkan, 34 persen pasien yang mengalami beku darah mengaku bekerja di depan komputer dalam waktu lama. Prof. Richard Beasley dari Medical Research Institute Selandia Baru mengatakan pasien-pasien tersebut mengalami apa yang disebut Deep-vein thrombosis (DVT), yaitu suatu kondisi di mana terdapat gumpalan darah beku di pembuluh vena kaki.
Darah beku tersebut bisa berakibat fatal. Jika pecah, dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di paru-paru.DVT selama ini dikaitkan dengan penerbangan jarak jauh, dan disebut "economy class syndrome". Sindrom tersebut disebabkan karena tempat duduk di pesawat tidak memiliki ruang yang cukup untuk peregangan sehingga meningkatkan risiko kebekuan darah.Studi tersebut meneliti 62 pasien berusia di bawah 65 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 1,4 persen yang mengalami DVT karena menjalani penerbangan jarak jauh.Hasil studi tersebut akan dipublikasikan bulan depan di New Zealand Medical Journal.(nks/nks)
di kutip dari http://www.detik.com
Ni Ketut Susrini - detikInet
Selandia Baru, Para pekerja kantoran yang berlama-lama duduk di depan komputer berisiko tinggi mengalami kebekuan darah yang fatal yang dapat menyebabkan kematian.
Associated Press yang dikutip detikINET, Kamis (15/3/2007) melansir, sebuah studi yang dilakukan peneliti asal Selandia Baru menyebutkan, 34 persen pasien yang mengalami beku darah mengaku bekerja di depan komputer dalam waktu lama. Prof. Richard Beasley dari Medical Research Institute Selandia Baru mengatakan pasien-pasien tersebut mengalami apa yang disebut Deep-vein thrombosis (DVT), yaitu suatu kondisi di mana terdapat gumpalan darah beku di pembuluh vena kaki.
Darah beku tersebut bisa berakibat fatal. Jika pecah, dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di paru-paru.DVT selama ini dikaitkan dengan penerbangan jarak jauh, dan disebut "economy class syndrome". Sindrom tersebut disebabkan karena tempat duduk di pesawat tidak memiliki ruang yang cukup untuk peregangan sehingga meningkatkan risiko kebekuan darah.Studi tersebut meneliti 62 pasien berusia di bawah 65 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 1,4 persen yang mengalami DVT karena menjalani penerbangan jarak jauh.Hasil studi tersebut akan dipublikasikan bulan depan di New Zealand Medical Journal.(nks/nks)
di kutip dari http://www.detik.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
