Awal Desember yang terusik, oleh kepenatan dan kejenuhan yang kian menghimpit dada.
serasa remuk sudah tulang dan sendi. ku bertanya apa nikmatnya hidup ini?
hati kecilku pun bangkit mengungkit dan menjerit. dari, oleh, dan untuk siapa aku hidup, lantang jawaban hati " ALLAH ".
Ya Illahi Robb kenapa engkau berikan kenikmatan hidup ini pada orang2 yang sesat, kenapa engkau hidupkan pikiran kami untuk membrontak Mu. sejatinya hidup ini untuk di nikmati apapun bentuk dan kondisi hidup itu tidaklah penting. ku ingin membuka mata dan jiwa serta hati nurani supaya bisa melihat, mendengar dan merasakan kehadiran-Mu. sujudku takan pernah dapat menutupi dosaku, simpuhku takan mampu membuka pintu-Mu, segenggam pasir telah menjadi gunung batu, hitam kelam tiada kesan. kepongahan dan kecongkakan melapaui langit biru.
Ya Allah, mampukah aku melihat wajah-Mu?.
04 Desember 06
Monday, December 04, 2006
Pengamen Istimewa
Pengamen yang Istimewa
Oleh Yon's Revolta
23 Nov 06 11:20 WIB
Dunia seniman itu unik. Memandang dunia dengan cara yang berbeda. Setiap seniman mempunyai cara pandangnya masing-masing. Bagi seniman muslim, terlepas dari pemikiran dan gaya hidupnya, asalkan tetap berpegang pada kitab suci dan ajaran nabi, sejauh itu kuat terjaga tak menjadi persoalan. Justru, yang demikian itu bisa membuat kita, yang barangkali termasuk orang biasa bisa bercermin kepadanya. Bercermin tentang kesederhanaan dan hakikat hidup.
Persoalan seni adalah persoalan rasa. Perjalanan keluar kota kemarin memberikan inspirasi saya untuk menuliskan catatan ini. Saya kebetulan diundang bersama 30 blogger dari Jawa Tengah dan Jogjakarta untuk mengikuti makan malam dan acara pembagian hadiah lomba blog yang diadakan oleh komunitas blog Semarang. Cerita tentang acara itu di lain kesempatan saja. Izinkan saya bercerita dulu tentang sepenggal kisah perjalanan yang saya rasakan.
Ya, seni adalah persoalan rasa. Sepanjang perjalanan Purwokerto, Magelang, Semarang, saya banyak menemukan seniman pengamen jalanan. Beragam lagu terlantunkan. Tapi hanya beberapa yang mengenakkan rasa. Dan, saya hanya terpukau pada seniman yang melantunkan lagu tentang kisah seorang anak kecil yang hidup di desa. Lagu itu dimainkan dengan petikan dawai gitar dan tiupan harmonika yang membuat suasana menjadi syahdu saja.
Bagi saya, dia termasuk pengamen istimewa, pengamen yang mempunyai jiwa seni. Di jalanan, tak banyak saya menemukan pengamen yang berjiwa seni. Ini menurut penilaian subjektif saya. Gitarnya sama, perkusinya sama. Tapi nilai rasanya akan berbeda ketika jiwa seni belum mengakar kuat dalam dirinya. Ini bisa terlihat dari penghayatannya dalam bermusik. Nah, sang pengamen istimewa itu memang berbeda.
Penghayatannya dalam bermusik begitu nampak. Ketika menyanyikan lagu balada tentang kehidupan anak kecil di desa, saya pelan-pelan mengikutinya. Di dalam bus yang sesak dan panas, suasana hati saya sedikit terhibur oleh pengamen itu. Lagu yang dibawakannya penuh penghayatan itu mengingatkan saya pada masa-massa kecil dulu. Bermain layang-layang di sawah, mengingat bebek-bebek yang mencari makan di sawah habis panen atau kerbau yang sedang digembalakan. Oh tak terasa kenangan sepuluh tahunan lalu teringat kembali.
Dan, kemudian tak terasa tiba-tiba wajah kedua orang tua saya seolah di depan mata. Ya, orang tua saya di desa. Sewaktu pulang, saya memang belum bisa berbagi cerita karena orang tua saya baru di Jakarta, ke tempat Abang saya yang baru saja melahirkan anak keduanya. Nah, perjalanan menuju Purwokerto ditemani seniman itu membuat saya termenung memandang keluar jendela bus membayangkan mereka dan suasana desa.
Hati saya bercampur aduk, tentang ingatan kembali ke kampung, tentang belum bisanya membahagiakan orang tua, tentang skenario masa depan yang belum nampak jelas kesuksesannya, dan tentang semakin senjanya hidup sementara belum banyak yang bisa diberikan untuk sesama.
Ketermenungan saya baru tersadarkan ketika sang pengamen mengulurkan tangannya untuk meminta uang. Saya ulurkan uang seribu rupiah untuknya karena saya suka cara dia nyanyi. Dan, tak terasa sedikit air menetes dalam isakan tangis pelan saya. Disebelah saya ada bapak-bapak, dan saya kembali memandang keluar jendela agar dia tak tahu isakan saya. Saya orangnya kasar tapi entah mengapa mudah sekali menangis. Semoga ini bukan pertanda kecengengan hidup. (yon's revolta)
~Snow Man Alone~
Purwokerto, Rabu 22 November 2006..
http://penakayu.blogspot.com
Oleh Yon's Revolta
23 Nov 06 11:20 WIB
Terpukaulah aku
Pada kidung tak biasa
Sepadan syair fatwa pujangga
Dari mata air kesejukan nurani...
Dunia seniman itu unik. Memandang dunia dengan cara yang berbeda. Setiap seniman mempunyai cara pandangnya masing-masing. Bagi seniman muslim, terlepas dari pemikiran dan gaya hidupnya, asalkan tetap berpegang pada kitab suci dan ajaran nabi, sejauh itu kuat terjaga tak menjadi persoalan. Justru, yang demikian itu bisa membuat kita, yang barangkali termasuk orang biasa bisa bercermin kepadanya. Bercermin tentang kesederhanaan dan hakikat hidup.
Persoalan seni adalah persoalan rasa. Perjalanan keluar kota kemarin memberikan inspirasi saya untuk menuliskan catatan ini. Saya kebetulan diundang bersama 30 blogger dari Jawa Tengah dan Jogjakarta untuk mengikuti makan malam dan acara pembagian hadiah lomba blog yang diadakan oleh komunitas blog Semarang. Cerita tentang acara itu di lain kesempatan saja. Izinkan saya bercerita dulu tentang sepenggal kisah perjalanan yang saya rasakan.
Ya, seni adalah persoalan rasa. Sepanjang perjalanan Purwokerto, Magelang, Semarang, saya banyak menemukan seniman pengamen jalanan. Beragam lagu terlantunkan. Tapi hanya beberapa yang mengenakkan rasa. Dan, saya hanya terpukau pada seniman yang melantunkan lagu tentang kisah seorang anak kecil yang hidup di desa. Lagu itu dimainkan dengan petikan dawai gitar dan tiupan harmonika yang membuat suasana menjadi syahdu saja.
Bagi saya, dia termasuk pengamen istimewa, pengamen yang mempunyai jiwa seni. Di jalanan, tak banyak saya menemukan pengamen yang berjiwa seni. Ini menurut penilaian subjektif saya. Gitarnya sama, perkusinya sama. Tapi nilai rasanya akan berbeda ketika jiwa seni belum mengakar kuat dalam dirinya. Ini bisa terlihat dari penghayatannya dalam bermusik. Nah, sang pengamen istimewa itu memang berbeda.
Penghayatannya dalam bermusik begitu nampak. Ketika menyanyikan lagu balada tentang kehidupan anak kecil di desa, saya pelan-pelan mengikutinya. Di dalam bus yang sesak dan panas, suasana hati saya sedikit terhibur oleh pengamen itu. Lagu yang dibawakannya penuh penghayatan itu mengingatkan saya pada masa-massa kecil dulu. Bermain layang-layang di sawah, mengingat bebek-bebek yang mencari makan di sawah habis panen atau kerbau yang sedang digembalakan. Oh tak terasa kenangan sepuluh tahunan lalu teringat kembali.
Dan, kemudian tak terasa tiba-tiba wajah kedua orang tua saya seolah di depan mata. Ya, orang tua saya di desa. Sewaktu pulang, saya memang belum bisa berbagi cerita karena orang tua saya baru di Jakarta, ke tempat Abang saya yang baru saja melahirkan anak keduanya. Nah, perjalanan menuju Purwokerto ditemani seniman itu membuat saya termenung memandang keluar jendela bus membayangkan mereka dan suasana desa.
Hati saya bercampur aduk, tentang ingatan kembali ke kampung, tentang belum bisanya membahagiakan orang tua, tentang skenario masa depan yang belum nampak jelas kesuksesannya, dan tentang semakin senjanya hidup sementara belum banyak yang bisa diberikan untuk sesama.
Ketermenungan saya baru tersadarkan ketika sang pengamen mengulurkan tangannya untuk meminta uang. Saya ulurkan uang seribu rupiah untuknya karena saya suka cara dia nyanyi. Dan, tak terasa sedikit air menetes dalam isakan tangis pelan saya. Disebelah saya ada bapak-bapak, dan saya kembali memandang keluar jendela agar dia tak tahu isakan saya. Saya orangnya kasar tapi entah mengapa mudah sekali menangis. Semoga ini bukan pertanda kecengengan hidup. (yon's revolta)
~Snow Man Alone~
Purwokerto, Rabu 22 November 2006..
http://penakayu.blogspot.com
ANAKMU BUKAN ANAKMU
Anakmu Bukanlah Anakmu
Oleh Nursalam AR ( http://www.eramuslim.com )
4 Des 06 09:57 WIB
Sabtu sore. Hipermarket waralaba Perancis ini luar biasa padat. Akhir pekan seperti sekarang ini pengunjungnya memang berlimpah. Apalagi hipermarket ini terletak di jalan protokol ibukota. Alhasil, bila troli saling beradu atau mendadak terseruduk ibu-ibu yang terburu-buru memanggil partner belanjanya, itu hal biasa. Atau bahkan mendadak seorang anak menubruk kita dengan es krim yang lantas membasahi baju kita. Salah satu temanku pernah mengalaminya. Untungnya aku tidak. Setidaknya sampai saat ini. Di deretan stand buah segar hanya ada seorang ibu dan anak laki-laki keriting. Lucu wajahnya. Persis di belakangnya, tengah melihat-lihat buah kurma, ada pria keriting. Tapi tidak lucu wajahnya. Itulah aku.
“Kurang ajar!” Mendadak si ibu menyalak. Berderet-deret nama binatang keluar dari mulutnya. Mulai dari yang berkaki empat hingga sang uwak manusia versi Darwin. Lengkap. Apa dakwaan si anak yang tampak mengkeret dengan wajah pasi itu? Ia rupanya tak sengaja menyenggol tumpukan apel impor hingga berjatuhan. Orang-orang menonton dengan berbagai ekspresi. Lebih banyak yang tampak kasihan. Petugas hipermarket lekas membereskan. Singkat saja untuk membereskan tumpukan apel yang jatuh. Namun rasanya tak sebentar untuk mengobati luka hati bocah usia dua tahunan itu. Sepertinya demikian bagiku yang orang luar. Wajah anak itu meringis dengan linang air mata di pipi putih montoknya. Ia menunduk. Kakinya yang bersepatu menggosok-gosok lantai. Mungkin ia tengah minta bantuan pada peri tanah.
Anak tirinyakah ia? Sudut batinku bertanya. Teringat stereotipe anak tiri a la Ary Anggara dan di sinetron-sinetron kiwari. Tapi, ah, tidak. Wajah anak itu mirip sekali ibunya.
Drama ibu-anak itu berakhir dengan si ibu menggeret si anak berjalan sambil terus menyumpah-nyumpah tak jelas. Si anak melangkah terseret-seret bak anak kambing dipaksa masuk kandang. Anehnya, tangisnya tak bersuara. Hanya deras airmata yang kian menganaksungai. Ah, malang nian dikau bocah keriting! Maaf, sebagai sesama keriting, ‘ku tak kuasa membantumu. Moga Tuhan melindungimu.
Shopping sendirian berlanjut. Maklum, baru dapat transfer honor terjemahan yang lumayan besar. Namun kenangan tentang si anak juga berlanjut. Tidakkah si ibu tahu bahwa anak bukanlah hak milik atau investasi yang leluasa diperlakukan seenak hati? Ia adalah amanah Tuhan. Seperti kata Khalil Gibran, ”anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah milik kehidupan.” Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang ibu yang memarahi anaknya dengan kasar karena mengencingi baju sang Nabi. Sang Nabi yang lembut hati pun menegurnya dengan bijak, “Noda di bajuku ini dapat segera hilang tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu.”
Di kesempatan lain Umar Ibnu Khattab bertanya keheranan ketika seorang sahabatnya merasa lebih “jantan” daripada sang khalifah—yang dikenal berperawakan besar dan jago perang--karena tak pernah mencium anaknya. “Bagaimana mungkin kau ini dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan rukuknya tatkala sang cucu bermain-main di punggungnya.”
“Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan lepas seperti hewan, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan pengajaran akhlak yang baik,” demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab masterpiece-nya, Ihya’ Ulumuddin.
Seorang sahabat zaman kuliahku terkekeh mendengar ceritaku via telepon. Ia juga baru punya anak usia beberapa pekan.
“Kok ketawa?” tanyaku heran. Agak tersinggung juga.
“Ente mah kalo teori jago, Akhi. Prakteknya dong. Makanya nikah!” ujarnya dengan tawa kian keras.
Aku terdiam. Benar sekali. Untuk mencontohkan mendidik anak yang baik harus nikah dahulu. Karena ternyata anak itu tidak—seperti dalam mitologi kuno Eropa—datang dibawa burung berparuh panjang dan diletakkan di tempat tidur orang yang menginginkannya.
Jakarta, 2 Desember 2006
Oleh Nursalam AR ( http://www.eramuslim.com )
4 Des 06 09:57 WIB
Sabtu sore. Hipermarket waralaba Perancis ini luar biasa padat. Akhir pekan seperti sekarang ini pengunjungnya memang berlimpah. Apalagi hipermarket ini terletak di jalan protokol ibukota. Alhasil, bila troli saling beradu atau mendadak terseruduk ibu-ibu yang terburu-buru memanggil partner belanjanya, itu hal biasa. Atau bahkan mendadak seorang anak menubruk kita dengan es krim yang lantas membasahi baju kita. Salah satu temanku pernah mengalaminya. Untungnya aku tidak. Setidaknya sampai saat ini. Di deretan stand buah segar hanya ada seorang ibu dan anak laki-laki keriting. Lucu wajahnya. Persis di belakangnya, tengah melihat-lihat buah kurma, ada pria keriting. Tapi tidak lucu wajahnya. Itulah aku.
“Kurang ajar!” Mendadak si ibu menyalak. Berderet-deret nama binatang keluar dari mulutnya. Mulai dari yang berkaki empat hingga sang uwak manusia versi Darwin. Lengkap. Apa dakwaan si anak yang tampak mengkeret dengan wajah pasi itu? Ia rupanya tak sengaja menyenggol tumpukan apel impor hingga berjatuhan. Orang-orang menonton dengan berbagai ekspresi. Lebih banyak yang tampak kasihan. Petugas hipermarket lekas membereskan. Singkat saja untuk membereskan tumpukan apel yang jatuh. Namun rasanya tak sebentar untuk mengobati luka hati bocah usia dua tahunan itu. Sepertinya demikian bagiku yang orang luar. Wajah anak itu meringis dengan linang air mata di pipi putih montoknya. Ia menunduk. Kakinya yang bersepatu menggosok-gosok lantai. Mungkin ia tengah minta bantuan pada peri tanah.
Anak tirinyakah ia? Sudut batinku bertanya. Teringat stereotipe anak tiri a la Ary Anggara dan di sinetron-sinetron kiwari. Tapi, ah, tidak. Wajah anak itu mirip sekali ibunya.
Drama ibu-anak itu berakhir dengan si ibu menggeret si anak berjalan sambil terus menyumpah-nyumpah tak jelas. Si anak melangkah terseret-seret bak anak kambing dipaksa masuk kandang. Anehnya, tangisnya tak bersuara. Hanya deras airmata yang kian menganaksungai. Ah, malang nian dikau bocah keriting! Maaf, sebagai sesama keriting, ‘ku tak kuasa membantumu. Moga Tuhan melindungimu.
Shopping sendirian berlanjut. Maklum, baru dapat transfer honor terjemahan yang lumayan besar. Namun kenangan tentang si anak juga berlanjut. Tidakkah si ibu tahu bahwa anak bukanlah hak milik atau investasi yang leluasa diperlakukan seenak hati? Ia adalah amanah Tuhan. Seperti kata Khalil Gibran, ”anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah milik kehidupan.” Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang ibu yang memarahi anaknya dengan kasar karena mengencingi baju sang Nabi. Sang Nabi yang lembut hati pun menegurnya dengan bijak, “Noda di bajuku ini dapat segera hilang tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu.”
Di kesempatan lain Umar Ibnu Khattab bertanya keheranan ketika seorang sahabatnya merasa lebih “jantan” daripada sang khalifah—yang dikenal berperawakan besar dan jago perang--karena tak pernah mencium anaknya. “Bagaimana mungkin kau ini dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan rukuknya tatkala sang cucu bermain-main di punggungnya.”
“Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan lepas seperti hewan, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan pengajaran akhlak yang baik,” demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab masterpiece-nya, Ihya’ Ulumuddin.
Seorang sahabat zaman kuliahku terkekeh mendengar ceritaku via telepon. Ia juga baru punya anak usia beberapa pekan.
“Kok ketawa?” tanyaku heran. Agak tersinggung juga.
“Ente mah kalo teori jago, Akhi. Prakteknya dong. Makanya nikah!” ujarnya dengan tawa kian keras.
Aku terdiam. Benar sekali. Untuk mencontohkan mendidik anak yang baik harus nikah dahulu. Karena ternyata anak itu tidak—seperti dalam mitologi kuno Eropa—datang dibawa burung berparuh panjang dan diletakkan di tempat tidur orang yang menginginkannya.
Jakarta, 2 Desember 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)
